sorotanmedia.co, Lombok Timur – Puluhan massa Gerakan Advokasi Nusantara (Ganas) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Senin (20/4/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kelangkaan gas LPG 3 kilogram yang hingga kini masih dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.
Dalam aksinya, massa menuntut pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas terhadap para pengusaha yang masih menggunakan gas LPG bersubsidi. Mereka menilai praktik tersebut menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan gas di tingkat pengecer maupun masyarakat umum.
Koordinator aksi, Eko Rahadi, secara simbolis membawa tabung gas kosong milik istrinya ke lokasi demonstrasi. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes nyata atas kondisi yang dialami masyarakat.
“Sampai hari ini gas masih langka, baik di pengecer pun juga sulit didapat. Kami bawa tong gas kosong ini agar Pak Bupati melihat langsung,” ujarnya.
Eko menegaskan bahwa kelangkaan LPG 3 kg telah berdampak serius terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia mencontohkan para pedagang kecil seperti penjual cilok yang tidak dapat berjualan akibat sulitnya mendapatkan pasokan gas.
“Penjual kecil ini kan menggantungkan hidup dari hasil jualan. Kasihan, para penjual tidak bisa berjualan karena gas masih langka. Kami minta Pemkab segera mencari solusi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Eko menyebut adanya oknum pengusaha nakal, termasuk dari sektor hotel dan restoran, yang masih menggunakan gas subsidi sebagai akar permasalahan. Ia menilai praktik tersebut merupakan pelanggaran hukum yang harus segera ditindak.
“Makanya kami minta Dinas Perdagangan menindak tegas, jangan jadi banci,” ucapnya lantang.
Selain itu, ia juga mengkritik kinerja Satgas yang dinilai hanya melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap pelaku usaha kecil, seperti peternak ayam. Menurutnya, langkah tersebut tidak menyentuh akar persoalan karena pengusaha besar dinilai belum tersentuh penindakan.
“Pengusaha besar mana yang berani ditindak, beraninya hanya di kandang ayam. Peternak ayam jangan selalu jadi kambing hitam. Mereka sudah lama berusaha sebelum kelangkaan terjadi,” keluhnya.
Sekretaris Daerah Lombok Timur, Muhammad Juaini Taofik, turun langsung menemui massa. Ia menyampaikan bahwa seluruh tuntutan yang disampaikan akan diteruskan kepada Bupati Lombok Timur untuk menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Juaini juga mengakui bahwa usulan penambahan kuota gas, baik subsidi maupun non-subsidi, merupakan hal yang tepat.
“Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah belum adanya data pasti terkait pengguna gas subsidi di Lombok Timur, sehingga menjadi tantangan dalam penyaluran yang tepat sasaran,”pungkasnya. (sm)



