Sorotanmedia.co – Ketua Umum, Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, memulai perjalanan dakwah dan penguatan organisasi ke tanah Papua dimulai tanggal 24 Oktober 2026 dari Kabupaten Merauke tepatnya di titik 0 Kilometer.
Pada Ahad (25/10/2026) perjalanan safari dakwahnya di Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Darul Qur’an NW Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dalam acara hari uang tahun (Hultah) ponpes tersebut dan pelantikan Pengurus Wilayah NW Papua Selatan.
Di tempat ini, hadir Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa dan sejumlah pejabat kabupaten dan provinsi.
“Alhamdulillah, pertama kali saya buka Papua untuk NW sekitar dua tahun lalu. Insya Allah, saya akan menyusuri enam provinsi di tanah Papua yang dimulai dari Merauke, Provinsi Papua Selatan,” ungkapnya melalui release tertulis yang diterima media ini.
Kata Rektor UI Hamzanwadi NW Lotim ini, selain menghadiri hultah pondok pesantren, kami juga melantik Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Papua Selatan, yang sebagian besar bukan orang Lombok.
“Alhamdulillah NW di Merauke ini diterima dengan baik. Buktinya banyak pengurus yang bukan dari orang Lombok saja, tapi orang Merauke itu sendiri,” ungkapnya.
Ketum PBNW juga mengatakan kepada pengurus NW dan jemaah, bahwa kita hidup di sebuah negeri yang besar. Besar bukan hanya karena luas wilayahnya. Bukan hanya karena banyak penduduknya.
“Indonesia besar karena dibangun oleh keberagaman suku, bahasa, adat, budaya, organisasi, dan agama,” ucap Maulana Hamzanwadi II ini di hadapan Wakil Gubernur Papua Selatan.
Menurutnya, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, kita memiliki cara hidup yang berbeda-beda.
“Namun kita dipersatukan oleh satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, dan satu cita-cita kebangsaan,”imbuhnya.
Ia juga mengingatkan, bila perbedaan dikelola dengan adil, dewasa, dan bertanggung jawab, keberagaman akan menjadi kekayaan bangsa. Namun jika perbedaan dipenuhi prasangka, kebencian, dan fanatisme yang sempit, keberagaman dapat berubah menjadi api yang membakar persatuan.
“Karena itu, menjaga Indonesia tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera. Menjaga Indonesia berarti menjaga persaudaraan di antara seluruh anak bangsa,” tandasnya.
“Menjaga Indonesia berarti memastikan bahwa tidak seorang pun diperlakukan secara zalim hanya karena berbeda suku, organisasi, pilihan politik, atau agama,”pungkasnya. (red)



