Monday, September 28, 2026
Google search engine
HomeLombok TimurLestarikan Warisan Maulanasyaikh, Jemaah NW Gotong Royong Buat Tetaring Raksasa Jelang Hultah

Lestarikan Warisan Maulanasyaikh, Jemaah NW Gotong Royong Buat Tetaring Raksasa Jelang Hultah

Sorotanmedia.co, Lombok Timur — Ribuan warga NW bergotog royong membuat tetaring raksasa dari bambu dan anyaman daun kelapa di Lapangan Ummuna Hj St Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani, Lombok Timur, Ahad (27/09/2026). Pemasangan Tetaring tersebut akan digunakan sebagai tempat perhelatan Hultah ke 91 Madrasah NWDI.

Ketua Panitia Hultah NWDI ke-91, TGH Lalu Gede Muhammad Khairul Fatihin QH, membuka langsung kegiatan tersebut. Ia meminta seluruh peserta bekerja dengan teliti dan hati-hati agar tetaring yang dibuat kuat dan tahan lama. “Untuk lebih teliti dan hati-hati supaya tetaring yang dihasilkan kuat, kokoh dan tahan lama,” pesannya.

Sementara itu, Koordinator Tetaring Hultah NWDI ke-91, Dr. TGH Lalu Ahmad Syarqowi Ramdani, mengatakan pembuatan tetaring merupakan warisan Pendiri Madrasah NWDI, NBDI dan Orgnaisasi NW Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, menjelang perayaan hultah Madarash NWDI setiap tahunnya.

“Dan ini yang kita teruskan hingga sekarang ini. Jemaah NW bergotong royong membuat tetaring yang luasnya kurang lebih 3 hektare ini,”ujarnya

Ia menjelaskan, warga telah dibagi lahan yang diselesaikan berdasarkan Pengurus Cabang NW masing-masing untuk mempercepat proses pembuatan tetaring. Misalnya PD NW Lotim dan PC NW se Lombok Timur bagi depan panggung utama hultah hingga ke jalan utama. Kemudian PD NW Loteng bangiannya di belakang dan samping kiri panggung utama. PD NW Lobar, KLU dan Kota Mataram di samping kanan panggung utama.

“Pembuatan tetaring ini adalah upaya gotong royong semua warga Nahdlatul Wathan yang sudah dibagi per Pengurus Cabang NW se Pulau Lombok guna mempercepat pembuatan,” jelasnya.

Ketua Pimpus PGNW sekaligus Anggota DPRD Provinsi NTB Dapil III Lombok Timur, Lale Yaqutunnafis, yang terjun langsung melihat pembuatan tetaring itu mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam pemasangan tetaring.

Menurutnya, proses tersebut memperlihatkan semangat masyarakat dalam menjaga warisan yang telah berlangsung sejak zaman Maulanasyeikh. Pembuatan Tetaring dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari merajut daun kelapa, menyiapkan pengikat dari bambu, hingga memasangnya secara bersama-sama.

“Tentu apresiasi yang tidak bisa diucapkan hanya lewat kata-kata bagi masyarakat, bagi jamaah Ninikda Almagfurullah Maulanasyeikh Zainuddin Abdul Madjid yang terus menjaga tradisi dengan membuat kelansah, dari merajut daun kelapa, membuat pengikat dari bambu, kemudian memasangnya,” ujar Ummi Lale, panggilan akrabnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Lombok Timur serta jamaah dari berbagai daerah, termasuk Sumbawa dan daerah lainnya, yang turut terlibat dalam persiapan Hultah.

Ummi Lale mengatakan, keterlibatan masyarakat dalam mendirikan tetaring bukan hal baru. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak zaman Maulanasyeikh, ketika setiap cabang dan blok memiliki tugas masing-masing dalam mempersiapkan kebutuhan Hultah.

“Dulu pernah melihat juga saat zaman Ninik Maulanasyeikh, zaman Ummuna saat masih segar bugar sering memantau. Kemudian saat ini jelang Hultah ke-91 ini, kerja keras yang luar biasa untuk masyarakat kita yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata,” tuturnya.

Tokoh Lombok Tengah,  TGH. Ahmad Barizi, mengatakan pemasangan tetaring menjadi bagian dari persiapan Hultah sekaligus upaya mempertahankan semangat kebersamaan yang telah diwariskan Maulanasyeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

“Kita membangun kebersamaan, kita merawat. Membuat itu gampang, tapi merawat itu jauh lebih sulit. Jadi membuat Tetaring ini sampai sekarang kita masih mempertahankan gotong royong,” kata TGH. Ahmad Barizi.

Menurutnya, penggunaan terop modern sebenarnya dapat menjadi pilihan yang lebih praktis. Namun, masyarakat tetap mempertahankan Tetaring karena proses pembuatannya memiliki nilai kebersamaan yang ingin terus dijaga.

“Kalau mau lebih simpel, kita bisa pakai terop saja. Kita kumpulkan sumbangan dari jamaah itu jauh lebih murah daripada kita membangun Tetaring ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biaya pembuatan tetaring cukup besar. Untuk satu petak dengan luas sekitar 3.000 meter persegi, biaya yang dibutuhkan dapat mencapai sekitar Rp40 juta. Sementara tetaring seluas sekitar 1.000 meter persegi dapat menghabiskan sekitar Rp10 juta.

Biaya tersebut antara lain digunakan untuk pengadaan bambu dan kelansah yang menjadi bagian dari bahan pembuatan Tetaring.

Meski membutuhkan biaya yang tidak sedikit, proses pemasangan tetap dilakukan secara bersama-sama. TGH. Ahmad Barizi menyebut, dari satu kecamatan saja dapat mengirim sekitar 300 hingga 400 orang untuk ikut bergotong royong. Jika dihimpun dari berbagai wilayah, jumlah masyarakat yang terlibat mencapai ribuan orang.

“Maulanasyeikh selalu mengatakan, kalau ada orang gotong royong, hadirlah walaupun hanya menonton. Maka dari itu kami lestarikan ini, walaupun dengan kemajuan zaman sudah banyak terop modern,” tuturnya.

Pemasangan tetaring telah dimulai sejak sebelum Zuhur. Sementara itu, persiapan Hultah Madrasah NWDI ke-91 secara keseluruhan disebut telah mencapai sekitar 60 hingga 70 persen.

Usman, jamaah asal Suralaga, mengatakan dirinya telah mengikuti pembuatan Tetaring sejak 2021. Ia menilai keterlibatannya dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya melanjutkan tradisi yang diwariskan Maulanasyeikh.

“Walaupun zaman sekarang sudah serba canggih dan mudah, namun di sini kita merajut dan melanjutkan tradisi guru kita Almagfurullah Maulanasyeikh lewat pembuatan Tetaring ini,” kata Usman.

Menurutnya, gotong royong dalam pemasangan Tetaring juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul dan berbaur dengan jamaah dari berbagai wilayah.

“Gotong royong ini juga ajang kita silaturahmi dan temu kangen. Di samping kita gotong royong, kita di sini berbaur menjadi satu sesama warna Nahdlatul Wathan sepulau Lombok,” ujarnya.

Bambu, kelansah, dan ribuan tangan yang bekerja bersama menjadi bagian dari persiapan Hultah sekaligus menjadi gambaran bagaimana semangat gotong royong masih terus dirawat menjelang peringatan Hultah Madrasah NWDI ke-91. (mus/his)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments